Profil Desa Karangsambung

Ketahui informasi secara rinci Desa Karangsambung mulai dari sejarah, kepala daerah, dan data lainnya.

Desa Karangsambung

Tentang Kami

Profil Desa Karangsambung, Kalibawang, Wonosobo. Kenali potensi ekonomi dari perkebunan kelapa terpadu, peternakan sapi PO, dan filosofi "karang yang tersambung" yang merefleksikan sinergi dan gotong royong warganya.

  • Filosofi "Karang yang Tersambung"

    Nama desa ini, Karangsambung, mencerminkan karakter sosial masyarakatnya yang sangat komunal dan terhubung, serta model ekonominya yang berbasis pada sistem pertanian terintegrasi yang saling menyambung.

  • Ekonomi Berbasis Pohon Kelapa

    Perekonomian desa secara dominan ditopang oleh ekosistem kelapa, di mana setiap bagian dari "pohon kehidupan" ini diolah menjadi produk bernilai ekonomi, mulai dari kopra, gula kelapa, hingga kerajinan.

  • Simbiosis Kelapa dan Sapi POT

    Desa ini menjadi contoh model simbiosis mutualisme antara perkebunan kelapa dengan peternakan Sapi Peranakan Ongole (PO), di mana limbah satu sektor menjadi input berharga bagi sektor lainnya, menciptakan sistem yang tangguh dan berkelanjutan.

XM Broker

Di tengah perbukitan hijau Kecamatan Kalibawang, Wonosobo, terdapat sebuah desa yang namanya menyimpan sebuah filosofi mendalam tentang kehidupan komunal dan alam yang saling terhubung: Desa Karangsambung. Nama yang berarti "pekarangan yang tersambung" ini bukan sekadar toponimi, melainkan cerminan nyata dari denyut nadi kehidupan warganya. Di sini, keterhubungan bukanlah sebuah konsep, melainkan praktik sehari-hari—antar tetangga, antar keluarga dan yang paling fundamental, antara menjulangnya pohon kelapa dengan kokohnya Sapi Peranakan Ongole (PO) yang menjadi penopang ekonomi mereka. Desa Karangsambung adalah sebuah orkestra agraris di mana setiap elemen bermain dalam harmoni yang sempurna.

Filosofi "Karang Sambung": Sejarah Keterhubungan Komunitas

Sejarah Desa Karangsambung terpatri dalam namanya. "Karang" dalam konteks pedesaan Jawa sering merujuk pada pekarangan atau lahan pemukiman, sementara "Sambung" berarti terhubung atau bersatu. Nama ini dipercaya merefleksikan dua hal. Pertama, tata letak fisik desa di masa lalu yang kemungkinan terdiri dari kelompok-kelompok pemukiman (karang) yang letaknya saling berdekatan dan terhubung oleh jalan-jalan setapak.Kedua, dan yang lebih penting, nama ini melambangkan struktur sosial masyarakatnya. Sejak awal, desa ini dibangun di atas fondasi gotong royong dan ketergantungan timbal balik. Semangat "saling menyambung" rezeki, tenaga, dan kepedulian menjadi perekat sosial yang membuat komunitas ini tangguh. Filosofi ini kemudian termanifestasi secara luar biasa dalam sistem ekonomi mereka, di mana berbagai elemen pertanian dan peternakan "disambungkan" untuk menciptakan sebuah siklus yang produktif dan berkelanjutan.

Geografi dan Demografi: Kesuburan di Tepian Aliran Sungai

Desa Karangsambung terletak di wilayah tenggara Wonosobo yang beriklim hangat, pada ketinggian rata-rata 300-500 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya merupakan bagian dari lanskap perbukitan subur yang dialiri oleh anak-anak sungai dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Bogowonto. Kehadiran sumber air yang cukup dan tanah aluvial yang subur menjadikan desa ini lokasi yang sangat ideal untuk perkebunan kelapa dan penyediaan pakan ternak.Secara administratif, Desa Karangsambung memiliki luas wilayah sekitar 410 hektare. Batas-batas wilayahnya meliputi:

  • Berbatasan dengan Desa Kalikarung

  • Berbatasan dengan wilayah Kabupaten Magelang

  • Berbatasan dengan Desa Tempursari

  • Berbatasan dengan Desa Depok

Berdasarkan data kependudukan per September 2025, jumlah penduduk Desa Karangsambung diperkirakan sekitar 5.100 jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 1.243 jiwa per kilometer persegi. Mayoritas kepala keluarga adalah petani-peternak, sebuah profesi ganda yang menjadi ciri khas utama desa ini.

Pohon Kehidupan: Ekonomi Berbasis Kelapa Terpadu

Bagi masyarakat Karangsambung, pohon kelapa (Cocos nucifera) adalah "pohon kehidupan". Tanaman ini menjadi tulang punggung ekonomi yang memberikan manfaat dari akar hingga pucuknya. Berbeda dengan desa lain yang mungkin hanya fokus pada satu produk, Karangsambung mengoptimalkan hampir seluruh potensi pohon kelapa:

  • Kopra (Daging Kelapa Kering): Sebagai komoditas utama, kopra diolah dari kelapa tua untuk kemudian dijual ke pabrik minyak kelapa.

  • Gula Kelapa: Nira dari bunga kelapa disadap dan diolah secara tradisional menjadi gula cetak, memberikan pendapatan harian bagi para pengrajinnya.

  • Kelapa Segar dan Santan: Buah kelapa segar, baik yang muda (degan) maupun yang tua, dijual ke pasar-pasar lokal untuk kebutuhan konsumsi langsung dan pembuatan santan.

  • Produk Turunan Lainnya: Sabut kelapa (coir) diolah menjadi tali atau keset, batok kelapa menjadi arang atau kerajinan tangan, dan daunnya (blarak) digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pakan ternak.

Pendekatan "zero waste" terhadap pohon kelapa ini menunjukkan kearifan masyarakat dalam memaksimalkan sumber daya yang mereka miliki.

Penopang Ekonomi dan Investasi: Peternakan Sapi Peranakan Ongole (PO)

Pilar ekonomi kedua yang tak kalah pentingnya adalah peternakan sapi, khususnya Sapi Peranakan Ongole (PO). Sapi berpunuk dengan warna putih khas ini merupakan jenis sapi potong unggulan yang telah lama menjadi bagian dari budaya agraris di Jawa. Bagi masyarakat Karangsambung, memelihara sapi PO memiliki beberapa fungsi strategis:

  • Investasi dan Tabungan: Sapi dianggap sebagai "tabungan hidup" yang likuid. Seekor sapi dapat dijual untuk membiayai kebutuhan besar seperti pernikahan, renovasi rumah, atau pendidikan anak.

  • Sumber Pendapatan Tambahan: Anak sapi (pedet) yang lahir menjadi keuntungan tambahan yang signifikan.

  • Simbol Status Sosial: Kepemilikan beberapa ekor sapi sering kali dianggap sebagai lambang kemapanan dan kesuksesan seorang petani.

  • Penghasil Pupuk: Ini adalah fungsi yang paling krusial dalam sistem terintegrasi desa.

Simbiosis Sempurna: Integrasi Kelapa dan Sapi

Inilah inti dari keunikan dan ketangguhan ekonomi Desa Karangsambung: simbiosis sempurna antara kelapa dan sapi. Sistem Integrasi Sapi-Kelapa (SISKA) ini berjalan secara alami dan efisien:

  • Dari Kebun ke Kandang: Limbah dari perkebunan kelapa tidak ada yang terbuang. Daun kelapa tua, ampas kopra, dan bahkan kulit buah kelapa dapat diolah menjadi pakan tambahan yang bergizi untuk sapi, mengurangi biaya pembelian pakan.

  • Dari Kandang ke Kebun: Kotoran sapi yang terkumpul di kandang diolah menjadi pupuk kandang (kompos). Pupuk organik berkualitas tinggi ini kemudian diaplikasikan kembali ke kebun-kebun kelapa. Penggunaan pupuk kandang secara terus-menerus menjaga dan bahkan meningkatkan kesuburan tanah, memastikan pohon-pohon kelapa tetap produktif untuk jangka waktu yang sangat lama.

Siklus tertutup ini menciptakan sebuah model pertanian yang sangat berkelanjutan, rendah biaya, dan ramah lingkungan. Inilah manifestasi nyata dari filosofi "Karang Sambung" dalam praktik ekonomi.

Tantangan dan Peluang di Desa yang Terhubung

Meskipun sistem yang dimiliki sudah sangat tangguh, Desa Karangsambung tetap menghadapi tantangan.

  • Fluktuasi Harga Komoditas: Harga kopra dan sapi di pasaran sering kali tidak stabil dan di luar kendali petani.

  • Regenerasi dan Modernisasi: Regenerasi peternak dan petani menjadi isu penting. Diperlukan sentuhan modernisasi, misalnya dalam teknik pengolahan pakan atau manajemen kesehatan ternak, untuk membuat sektor ini lebih menarik bagi generasi muda.

  • Ancaman Hama: Perkebunan kelapa rentan terhadap serangan hama seperti kumbang tanduk (oryctes rhinoceros) yang dapat merusak pucuk pohon.

Namun peluang di masa depan sangatlah besar. Desa Karangsambung memiliki potensi untuk dipromosikan sebagai desa model untuk pertanian terintegrasi. Konsep "edu-agrowisata" dapat dikembangkan, di mana pengunjung dapat belajar secara langsung tentang siklus simbiosis sapi-kelapa. Selain itu, ada peluang besar untuk mengembangkan produk turunan bernilai tambah, seperti Virgin Coconut Oil (VCO) skala rumahan, atau daging sapi dengan merek "daging sapi organik" karena pakannya yang alami. Dengan memperkuat branding berbasis pada sistem integrasinya yang unik, Karangsambung dapat meningkatkan nilai ekonomi dari setiap produk yang dihasilkannya.